Tampilkan postingan dengan label Ceramah Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceramah Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

10 Hikmah Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan

10 Hikmah Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan – Ibadah puasa Ramadhan memiliki banyak keutamaan, dan diantara keutamaan tersebut sebagian besar manfaat/hikmahnya merupakan untuk diri kita sendiri.
Hikmah berpuasa yang kita dapatkan ini tentunya berkaitan erat dengan amalan puasa yang kita jalani dan tentunya amalan pada puasa ramadhan bukanlah hanya menahan makan dan minum saja, melainkan juga menjalankan amalan ibadah Ramadhan lainnya, seperti bersedekah, Itikaf, Silaturahmi, Menghindari diri dari yang haram, dan banyak lagi.
Maka dari itu, agar lebih termotivasi dalam menyempurnakan puasa tahun 2013 ini, kami sajikan untuk Anda 10 hikmah melaksanaka ibadah puasa Ramadhan yang dikutip dari berbagai sumber, selamat menyimak.
  1. Melatih Disiplin Waktu – Untuk menghasilkan puasa yang tetap fit dan kuat di siang hari, maka tubuh memerlukan istirahat yang cukup, hal ini membuat kita tidur lebih teratur demi lancarnya puasa. Bangun untuk makan sahur dipagi hari juga melatih kebiasaan untuk bangun lebih pagi untuk mendapatkan rejeki (makanan).
  2. Keseimbangan dalam Hidup – Pada hakikatnya kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk beribadah. Namun sayang hanya karena hal duniawi seperti pekerjaan, hawa nafsu dan lain-lain kita sering melupakan kewajiban kita. Pada bulan puasa ini kita terlatih untuk kembali mengingat dan melaksanakan seluruh kewajiban tersebut dengan imbalan pahala yang dilipatgandakan.
  3. Mempererat Silaturahmi – Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid.
  4. Lebih Perduli Pada Sesama – Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid.
  5. Tahu Bahwa Ibadah Memiliki Tujuan – Tujuan puasa adalah melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi kita terbiasa berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.
  6. Tiap Kegiatan Mulia Merupakan Ibadah – Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai ibadah.
  7. Berhati-hati Dalam Berbuat – Puasa Ramadhan akan sempurna dan tidak sia-sia apabila selain menahan lapar dan haus juga kita menghindari keharaman mata, telinga, perkataan dan perbuatan. atihan ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain sebagainya.
  8. Berlatih Lebih Tabah – Dalam Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa.
  9. Melatih Hidup Sederhana – Ketika waktu berbuka puasa tiba, saat minum dan makan sedikit saja kita telah merasakan nikmatnya makanan yang sedikit tersebut, pikiran kita untuk makan banyak dan bermacam-macam sebetulnya hanya hawa nafsu saja.
  10. Melatih Untuk Bersyukur – Dengan memakan hanya ada saat berbuka, kita menjadi lebih mensykuri nikmat yang kita miliki saat tidak berpuasa. Sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih mensyukuri nikmat Allah SWT.

Sabtu, 27 Juli 2013

Bulan Ramadhan Menjadi Momentum Taubat


Taubat berarti kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan. Dalam arti yang lebih luas, taubat adalah membersihkan hati dari segala dosa, atau meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan kemunkaran karena membesarkan Allah SWT dan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.

Sejatinya, taubat bukan sekadar penghapus dosa, namun juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, sekalipun tidak berdosa, umat tetap diperintahkan bertaubat, sehingga menjadi wajib hukumnya.

Bahkan Rasulullah SAW tak melalaikan untuk bertaubat. Rasulullah senantiasa bertaubat tidak kurang dari 70 kali sehari semalam.

Jika seorang Nabi SAW yang telah terpelihara dari dosa pun selalu bertaubat, maka umat hendaknya jangan meninggalkan taubat. Terlebih seperti disabdakan Nabi, bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Jika seseorang telah bertaubat, maka dosa-dosanya akan dihapus oleh Allah SWT. Selain itu, jika dia meninggal dunia saat bertaubat, dia akan husnul khatimah.

Keutamaan Ramadhan

Zainal lantas menjelaskan empat sumber dosa. Pertama, menyematkan sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya, yakni sombong, angkuh dan ingin dipuji. Kedua, menyematkan sifat-sifat setan dalam dirinya, seperti hasud, membuat makar (rencana jahat) dan munafik.  Ketiga, menyematkan sifat-sifat hewan dalam dirinya, seperti rakus, zina, makan harta orang lain (anak yatim) dan sebagainya. Dan keempat, menyematkan watak binatang buas dalam dirinya, seperti marah, dendam, saling berkelahi, saling benci dan sebagainya.

Oleh karenanya, dengan kehadiran bulan suci Ramadhan, menjadi momen tepat untuk memperbanyak taubat. Pada bulan penuh berkah ini, merupakan kafarat terhadap dosa-dosa sampai Ramadhan berikutnya sepanjang dosa-dosa yang terjadi antara waktu shalat fardhu dan dari Jumat ke Jumat berikutnya.

Tahapan Taubat :

1. Pengakuan bahwa dirinya bersalah.
2. Tekad yang kuat untuk benar-benar bertaubat.
3. Usaha sekuat mungkin untuk meninggalkan perbuatan tercela yang telah dilakukan.
4. Didukung dengan ibadah maali atau ibadah harta, seperti bersedekah.

Sunnah-sunnah Ramadhan


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…
Ramadhan yang kita berada di dalamnya ini merupakan satu bulan yang sangat istimewa. Karenanya banyak ulama' berharap bahwa setiap bulan adalah Ramadhan. Meskipun keinginan ini tidak pernah terwujud, mereka senantiasa berusaha me-ramadhan-kan seluruh bulan. Mereka juga berdoa selama enam bulan pasca Ramadhan agar ibadahnya sepanjang Ramadhan diterima. Lalu enam bulan kemudian mereka berdoa agar bisa bertemu dengan Ramadhan yang akan datang.

Lalu saat Ramadhan tiba seperti saat ini, mereka betul-betul memanfaatkan Ramadhan secara optimal. Jika para pengusaha cerdas memanfaatkan setiap peluang dengan efektif sehingga memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dalam bisnis mereka, para salafus shalih bahkan jauh lebih serius dari apa yang mereka lakukan. Sebab mereka sadar bahwa tidak ada jaminan bahwa pada Ramadhan yang akan datang mereka masih ada di dunia ini dan memiliki kesempatan beribadah seperti ini.

Maka, diantara hal yang perlu dilakukan adalah mengikuti sunnah-sunnah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut :

1. Sahur dan mengakhirkannya

Diantara sunnah Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah makan sahur. Dalam salah satu hadits beliau bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah engkau karena makan sahur itu berkah (HR. Bukhari Muslim)

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan hal yang menyebabkan berkahnya sahur adalah karena ia menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkan, dan memudahkannya.

Para Shahabat yang merupakan generasi pecinta sunnah merupakan para pioner dalam mengamalkan sunnah ini. Amar bin Maimun berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سُحُورًا

Para shahabat Nabi Muhammad SAW adalah orang-orang yang paling segera berbukanya dan paling terlambat bersahurnya (HR. Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Kapankah waktu yang disebut mengakhirkan sahur yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya? Zaid bin Tsabit menjawab itu saat ditanya oleh Anas bin Malik.

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit berkata: "Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian melaksanakan shalat (Shubuh)", maka saya (Anas) bertanya: "Berapa kira-kira jarak keduanya?" Zaid menjawab "Lima puluh ayat" (HR. Bukhari)

2. Menyegerakan berbuka puasa
Sunnah Ramadhan yang kedua adalah menyegerakan berbuka. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia tetap dalam kebaikan selagi menyegerakan berbuka (Muttafaq 'alaih)

Ketika matahari telah terbenam dengan jelas, maka disunnahkan untuk segera berbuka. Sebaiknya berbuka adalah dengan buah kurma dan jika tidak ada, maka berbuka dengan minum air.

3. Memperbanyak doa di tengah puasa dan ketika berbuka

Mengapa? Karena doa orang yang berpuasa tidak ditolak oleh Allah SWT, baik saat tengah berpuasa maupun saat berbuka. Rasulullah SAW bersabda :

إن للصائم عند فطره دعوة ما ترد

Sesungguhnya doa orang yang puasa pada saat berbuka tidak tertolak (HR. Hakim, Thabrani, Baihaqi)

ثلاثة لاترد دعوتهم الامام العادل والصائم حتى يفطر ودعوة المظلوم

Tiga orang yang tidak tertolak doanya: Imam yang adil, orang yang puasa sampai berbuka, dan orang yang dianiaya (HR. Baihaqi)

Setiap kita pasti memiliki hajat kepada Allah SWT. Setiap kita pasti memiliki masalah dalam hidup ini. Setiap kita tentunya menghadapi problematika. Maka, berdoalah kepada Allah, kita mohon solusi dan jalan keluarnya. Dan yang lebih penting adalah kita berdoa kepada Allah untuk akhirat kita. Takutlah jika kita hanya berdoa untuk kebaikan dunia, kita tidak mendapatkan bagian di akhirat.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah : 200-201)

4. Menghindari hal-hal yang bisa membuat puasa sia-sia

Terkadang kita jumpai masyarakat kita memaknai puasa hanya sekedar menahan makan dan minum. Sementara lisannya dibiarkan tidak berpuasa, telinganya masih tidak dijaga, atau bahkan tangan dan kakinya melakukan hal-hal yang keji.
Rasulullah bersabda tentang hakikat puasa:

ليس الصيام من الأكل والشرب إنما الصيام من اللغو والرفث

Puasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, sesungguhnya puasa itu menahan diri dari hal-hal yang sia-sia dan keji (HR. Hakim dan dia menshahihkan sesuai syarat Muslim)

5. Shalat tarawih

Diantara sunnah dalam bulan Ramadhan adalah shalat tarawih; sebuah ibadah sunnah muakkad yang tidak bisa kita jumpai di bulan yang lain. Kesempatan yang langka ini hendaknya kita manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan biarkan diri kita kehilangan satu malam pun untuk shalat tarawih.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُرَغِّبُ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah RA. Berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa mewajibkannya", kemudian beliau bersabda: "Barangsiapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Muslim)

6. Memperbaiki amal dan tadarus Al-Qur'an

Sunnah lainnya pada bulan Ramadhan adalah memperbaiki amal dan tadarus Al-Qur'an. Kita perbanyak tilawah Al-Qur'an juga melakukan tahsin tilawah dan mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya.
a

Diposkan oleh Admin BeDa pada Selasa, 02 Agustus 2011 | 07.00 WIB


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…
Ramadhan yang kita berada di dalamnya ini merupakan satu bulan yang sangat istimewa. Karenanya banyak ulama' berharap bahwa setiap bulan adalah Ramadhan. Meskipun keinginan ini tidak pernah terwujud, mereka senantiasa berusaha me-ramadhan-kan seluruh bulan. Mereka juga berdoa selama enam bulan pasca Ramadhan agar ibadahnya sepanjang Ramadhan diterima. Lalu enam bulan kemudian mereka berdoa agar bisa bertemu dengan Ramadhan yang akan datang.

Lalu saat Ramadhan tiba seperti saat ini, mereka betul-betul memanfaatkan Ramadhan secara optimal. Jika para pengusaha cerdas memanfaatkan setiap peluang dengan efektif sehingga memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dalam bisnis mereka, para salafus shalih bahkan jauh lebih serius dari apa yang mereka lakukan. Sebab mereka sadar bahwa tidak ada jaminan bahwa pada Ramadhan yang akan datang mereka masih ada di dunia ini dan memiliki kesempatan beribadah seperti ini.

Maka, diantara hal yang perlu dilakukan adalah mengikuti sunnah-sunnah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut :

1. Sahur dan mengakhirkannya

Diantara sunnah Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah makan sahur. Dalam salah satu hadits beliau bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah engkau karena makan sahur itu berkah (HR. Bukhari Muslim)

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan hal yang menyebabkan berkahnya sahur adalah karena ia menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkan, dan memudahkannya.

Para Shahabat yang merupakan generasi pecinta sunnah merupakan para pioner dalam mengamalkan sunnah ini. Amar bin Maimun berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سُحُورًا

Para shahabat Nabi Muhammad SAW adalah orang-orang yang paling segera berbukanya dan paling terlambat bersahurnya (HR. Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Kapankah waktu yang disebut mengakhirkan sahur yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya? Zaid bin Tsabit menjawab itu saat ditanya oleh Anas bin Malik.

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit berkata: "Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian melaksanakan shalat (Shubuh)", maka saya (Anas) bertanya: "Berapa kira-kira jarak keduanya?" Zaid menjawab "Lima puluh ayat" (HR. Bukhari)

2. Menyegerakan berbuka puasa
Sunnah Ramadhan yang kedua adalah menyegerakan berbuka. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia tetap dalam kebaikan selagi menyegerakan berbuka (Muttafaq 'alaih)

Ketika matahari telah terbenam dengan jelas, maka disunnahkan untuk segera berbuka. Sebaiknya berbuka adalah dengan buah kurma dan jika tidak ada, maka berbuka dengan minum air.

3. Memperbanyak doa di tengah puasa dan ketika berbuka

Mengapa? Karena doa orang yang berpuasa tidak ditolak oleh Allah SWT, baik saat tengah berpuasa maupun saat berbuka. Rasulullah SAW bersabda :

إن للصائم عند فطره دعوة ما ترد

Sesungguhnya doa orang yang puasa pada saat berbuka tidak tertolak (HR. Hakim, Thabrani, Baihaqi)

ثلاثة لاترد دعوتهم الامام العادل والصائم حتى يفطر ودعوة المظلوم

Tiga orang yang tidak tertolak doanya: Imam yang adil, orang yang puasa sampai berbuka, dan orang yang dianiaya (HR. Baihaqi)

Setiap kita pasti memiliki hajat kepada Allah SWT. Setiap kita pasti memiliki masalah dalam hidup ini. Setiap kita tentunya menghadapi problematika. Maka, berdoalah kepada Allah, kita mohon solusi dan jalan keluarnya. Dan yang lebih penting adalah kita berdoa kepada Allah untuk akhirat kita. Takutlah jika kita hanya berdoa untuk kebaikan dunia, kita tidak mendapatkan bagian di akhirat.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah : 200-201)

4. Menghindari hal-hal yang bisa membuat puasa sia-sia

Terkadang kita jumpai masyarakat kita memaknai puasa hanya sekedar menahan makan dan minum. Sementara lisannya dibiarkan tidak berpuasa, telinganya masih tidak dijaga, atau bahkan tangan dan kakinya melakukan hal-hal yang keji.
Rasulullah bersabda tentang hakikat puasa:

ليس الصيام من الأكل والشرب إنما الصيام من اللغو والرفث

Puasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, sesungguhnya puasa itu menahan diri dari hal-hal yang sia-sia dan keji (HR. Hakim dan dia menshahihkan sesuai syarat Muslim)

5. Shalat tarawih

Diantara sunnah dalam bulan Ramadhan adalah shalat tarawih; sebuah ibadah sunnah muakkad yang tidak bisa kita jumpai di bulan yang lain. Kesempatan yang langka ini hendaknya kita manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan biarkan diri kita kehilangan satu malam pun untuk shalat tarawih.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُرَغِّبُ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah RA. Berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa mewajibkannya", kemudian beliau bersabda: "Barangsiapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Muslim)

6. Memperbaiki amal dan tadarus Al-Qur'an

Sunnah lainnya pada bulan Ramadhan adalah memperbaiki amal dan tadarus Al-Qur'an. Kita perbanyak tilawah Al-Qur'an juga melakukan tahsin tilawah dan mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas RA. Berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya memuncak pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya dan Jibril menemuinya setiap malam untuk tadarus Al-Qur'an. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang bertiup". (HR. Bukhari)

7. Bersungguh-sungguh pada 10 hari terakhir


Sunnah yang biasa terlupakan kaum muslimin pada hari ini adalah pada 10 hari terakhir, yang merupakan puncak dari Ramadhan. Tetapi lebih banyak orang yang menggunakan waktu itu untuk persiapan lebaran dengan belanja atau persiapan mudik, dan lain sebagainya. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya.

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari Aisyah RA berkata : "Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggang". (Muttafaq 'alaih)

Demikian sunnah-sunnah Ramadhan, semoga kita termasuk orang yang mendapat taufiq untuk melakukannya. Amin.

Wallaahu a'lam bish shawab [Muchlisin]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas RA. Berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya memuncak pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya dan Jibril menemuinya setiap malam untuk tadarus Al-Qur'an. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang bertiup". (HR. Bukhari)

7. Bersungguh-sungguh pada 10 hari terakhir


Sunnah yang biasa terlupakan kaum muslimin pada hari ini adalah pada 10 hari terakhir, yang merupakan puncak dari Ramadhan. Tetapi lebih banyak orang yang menggunakan waktu itu untuk persiapan lebaran dengan belanja atau persiapan mudik, dan lain sebagainya. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya.
عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari Aisyah RA berkata : "Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggang". (Muttafaq 'alaih)

Demikian sunnah-sunnah Ramadhan, semoga kita termasuk orang yang mendapat taufiq untuk melakukannya. Amin.

Wallaahu a'lam bish shawab [Muchlisin]

Keutamaan Puasa


Segala puji hanyalah milik Allah, Dzat Yang Mahalembut, Maha Penyantun, Maha Pemberi, Mahakaya, Mahakuat Kekuasaan-Nya, Mahamulia, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dialah al-Awwal (Yang pertama), Tidak ada sesuatu pun yang medahului-Nya, al-Akhir (Yang terakhir), tidak ada sesuatu pun setelah-Nya, azh-Zhahir (Yang tidak ada sesuatu pun mengungguli-Nya), tidak ada sesuatu pun di atas-Nya, dan al-Bathin (Yang tidak ada sesuatu pun yang menghalangi-Nya), tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang telah dan akan terjadi. Dialah yang memuliakan dan menghinakan serta memberikan kemiskinan dan kekayaan. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya sesuai dengan hikmah-Nya. Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan. Dialah yang mengokohkan bumi dengan pegunungan di segenap penjurunya, mengirimkan awan yang membawa air untuk menghidupkannya, dan menetapkan kefanaan terhadap segenap penghuninya supaya Dia dapat memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).

Kami memuji-Nya atas sifat-sifat-Nya yang baik dan sempurna, serta kami bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang melimpah ruah. Dengan syukur, niscaya karunia dan pemberian-Nya akan bertambah. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Maharaja dan Mahaperkasa. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang diutus kepada jin dan manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, seiring dengan pergantian zaman.

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, Sesungguhnya puasa termasuk ibadah dan bentuk ketaatan yang paling utama, sebagaimana disebutkan dalam hadist da atsar. Di antara keutamaannya adalah Allah telah mewajibkan seluruh ummat untuk melakukan ibadah puasa sebagaima dalam firman-Nya:

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقونَ ﴿١٨٣﴾

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al-Baqarah: 183)

Sekiranya puasa bukanlah merupakan ibadah yang agung, tentulah seorang hamba tidak akan membutuhkannya dalam rangka beribadah kepada Allah, meskipun di dalamnya terdapat pahala yang memang telah Allah wajibkan kepada seluruh ummat. Seorang hamba pasti membutuhkannya untuk beribadah kepada Allah dan memerlukan dampak positifnya berupa pahala.

Di antara keutamaan puasa Ramadhan adalah ia meerupakan sebab terampuninya dosa dan dihapuskannya kesalahan. Disebutkan dalam ash-Shahihain, dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رمضان إيماناً واحْتساباً غُفِرَ لَهُ ما تقدَّم مِن ذنبه

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan karena mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Maksudnya, jika berpuasa dengan keimanan kepada Allah dan ridha dengan kewajiban puasa, mengharap pahala dan ganjarannya, tidak benci kewajiban puasa, dan tidak ragu dengan pahalanya, maka Allah benar-benar akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلواتُ الخَمْسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ ورمضانُ إلى رمضانَ مُكفِّراتٌ مَا بينهُنَّ إذا اجْتُنِبت الْكَبَائر

“Antara shalat-shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar dijauhi.”

Keutamaan selanjutnya, pahala puasa tidak terikat dengan bilangan tertentu. Orang yang berpuasa akan diberikan pahala yang tidak terbatas. Disebutkan dalam ash-Shahihain, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قال الله تعالى: كُلُّ عَمَل ابن آدم لَهُ إلاَّ الصومَ فإِنَّه لي وأنا أجزي بهِ. والصِّيامُ جُنَّةٌ فإِذا كان يومُ صومِ أحدِكم فَلاَ يرفُثْ ولا يصْخَبْ فإِنْ سابَّهُ أَحدٌ أو قَاتله فَليقُلْ إِني صائِمٌ، والَّذِي نَفْسُ محمدٍ بِيَدهِ لخَلُوفُ فمِ الصَّائم أطيبُ عند الله مِن ريح المسك، لِلصائمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهما؛ إِذَا أفْطَرَ فرحَ بِفطْرهِ، وإِذَا لَقِي ربَّه فرح بصومِهِ

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Seluruh amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, ‘Puasa adalah perisai oleh karena itu, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa,maka janganlah mengucapkan perkataan yang jelek dan berteriak-teriak. Apabila ada yang mencela dan memeranginya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang berpuasa itu lebih baik dari wangi misik. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan: (1) Pada waktu berbuka,ia gembira dengan buka puasa. (2) Ketika bertemu Rabbnya ia bergembira dengan puasanya.”

Disebutkan dalam salah satu riwayat Muslim:

كُلُّ عملِ ابنِ آدمَ لَهُ يُضَاعفُ الحَسَنَة بعَشرِ أمثالِها إلى سَبْعِمائِة ضِعْفٍ، قَالَ الله تعالى إِلاَّ الصَومَ فإِنه لِي وأَنَا أجْزي به يَدَعُ شهْوَتَه وطعامه من أجْلِي

“Suatu kebaikan dalam setiap amal anak Adam dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Lalu Allah berfirman: ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Pelakunya telah meniggalkan syahwat dan makan karena Aku.”

Hadist yang mulia ini menunjukkan keutamaan puasa dari banyak segi, diantaranya:

Pertama: Allah mengkhususkan puasa untuk diri-Nya, berbeda dengan seluruh amalan yang lain. Hal ini disebabkan kemuliaan puasa di sisi Allah, kecintaan-Nya terhadap puasa dan tampaknya nilai keikhlasan di dalam pelaksanaannya. Sebab, puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya, tidak ada yang mengetahui selain Allah. Orang yang berpuasa ketika berada di tempat yang sepi mampu melanggar apa-apa yang di haramkan Allah dalam puasa, namun ia tidak melakukannya. Dia mengetahui bahwa Allah melihatnya meskipun ia tengah berada di tempat yang sepi. Akhirnya, iapun meniggalkan perkara yang haram tadi karena takut kepada azab-Nya dan mengharap pahala-Nya. Oleh sebab itu, Allah Mensyukuri keikhlasan ini dan mengkhususkan puasanya tadi untuk diri-Nya, berbeda dengan seluruh amal yang lain. Inilah sebab firman Allah dalam hadist di atas:

يَدعُ شهوتَه وطعامَه من أجْلي

“Ia meninggalkan syahwat dan makan karena Aku.”

Faedah dari kekhususan puasa ini akan tampak pada hari Kiamat kelak, sebagaimana perkataan Sufyan bin ‘Uyainah:

“Pada hari kiamat, Allah memperhitungkan amal hamba-Nya dan membalas berbagai kezaliman yang dilakukannya dari seluruh amalnya tersebut. Jika tidak lagi ada yang tersisa, kecuali hanya puasa, maka Allah menanggung kezaliman-kezalimannya yang masih tersisa dengan (melipatgandakan pahala) puasa tadi, kemudian Allah memasukkan pelakunya ke surga.” [Lihat perkataan ini dalam Fat-hul Barii (IV/601), Kitab “ash-Shaum”, Bab “Fadhlish Shaum”]

Kedua: Tentang puasa, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadist tadi:

وأَنَا أجْزي به

“Akulah yang akan membalasnya.”

Dia menyandarkan pahala pada diri-Nya yang mulia. Amalan-amalan shalih yang lain dilipatgandakan pahalanya dengan berlipat ganda. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh sampai dengan tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan-kelipatan yang banyak. Adapun puasa, Allah menyandarkan pahalanya pada diri-Nya, tanpa menggunakan bilangan tertentu. Sungguh Dia Maha Pemurah di antara para pemurah dan Maha Pemberi diantara para dermawan. Besarnya pemberian itu sesuai dengan kebesaran pemberianya. Oleh karena itu, pahala orang yang berpuasa teramat banyak lagi tidak terhigga.

Puasa merupakan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, kesabaran terhadap apa-apa yang diharamkan oleh Allah, dan kesabaran atas ketetapan-ketetapan Allah berupa lapar, dahaga, serta lemahnya jiwa dan raga. Tiga macam kesabaran telah terkumpul pada diri orang yang berpuasa sehingga ia dapat dikategorikan sebagai orang-orang yang sabar.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّما يُوَفَّى الصّٰبِرونَ أَجرَهُم بِغَيرِ حِسابٍ ﴿١٠﴾

“…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az- Zumar: 10)

Ketiga: Puasa adalah perisai. Artinya, puasa adalah sesuatu yang mampu mencegah sekaligus menjadi tabir yang menjaga pelakunya dari perbuatan buruk dan sia-sia, Oleh sebab itu, dalam hadist tadi disebutkan:

فإِذا كان يومُ صومِ أحدِكم فلا يرفُثْ وَلاَ يَصْخبْ

“Jika kalian berpuasa, maka janganlah mengatakan perkataan yang jelek dan berteriak-teriak.”

Puasa juga menjaga pelakunya dari api Neraka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, dengan sanad hasan, bahwasanya Nabi bersabda:

الصيام جُنَّةٌ يَسْتجِنُّ بها العبدُ من النار

“Puasa adalah perisai yang di pakai oleh seorang hamba untuk melindungi diri dari Neraka.”

Keempat: Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah dibandingkan wangi misik. Sebab, ia merupakan efek dari puasa. Oleh karena itu, ia menjadi baik di sisi-Nya dan dicintai-Nya. Ini adalah dalil yang menunjukkan betapa agungnya puasa di sisi Allah. Sampai-sampai, sesuatu yang dibenci dan dianggap menjijikkan menurut manusia malah dicintai-Nya dan dianggap baik dikarenakan ia timbul dari ketaatan kepada-Nya, yaitu dengan puasa.

Kelima: Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan: ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Kegembiraannya pada saat berbuka ialah bergembira dengan nikmat yang telah Allah berikan, yaitu puasa. Ibadah ini termasuk amal shalih yang paling utama, namun betapa banyak orang yang terhalang dari puasa. Selain itu, ia juga bergembira dengan apa yang kembali di halalkan Allah untuknya, berupa makanan, minuman,dan persetubuhan; mengingat hal tersebut diharamkan baginya pada saat sedang berpuasa.

Adapun kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya, yaitu bergembira tatkala ia mendapatkan balasan yang utuh dan sempurna atas puasannya di sisi Allah ketika benar-benar membutuhkannya. Maksudnya, pada saat terdengar seruan: “Mana orang-orang yang berpuasa? Hendaklah mereka memasuki Surga dari pintu ar-Rayyan. Tidak ada yang boleh memasuki pintu tersebut selain mereka.”

Hadist di atas juga mengandung pelajaran dan bimbingan bagi orang yang berpuasa. Apabila ia dicaci atau diperangi, hendaklah jangan membalas dengan perbuatan yang serupa agar celaan dan peperangan itu tidak berlanjut. Ia juga tidak boleh menunjukkan sikap lemah dengan diam. Akan tetapi, hendaklah seseorang memberitahu kalau ia sedang berpuasa, sebagai isyarat bahwa ia tidak akan membalas dengan perbuatan yang serupa untuk menghargai puasa, bukan karena tidak mampu membalas. Pada saat itu putuslah celaan dan peperangan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِي أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِىٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلاَّ الَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلاَّ ذُو حَظِّ عَظِيمٍ

“…Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar.” (QS.Fushshilat: 34-35)

Keutamaan selanjutnya adalah puasa mampu memberikan syafaat kepada pelakunya pada hari Kiamat. Diriwayatkan dari ‘Abullah bin ‘Amr, bahwasanya Nabi bersabda:

الصِّيامُ والْقُرآنُ يَشْفَعَان للْعبدِ يَوْمَ القِيَامَةِ، يَقُولُ الصيامُ: أي ربِّ مَنَعْتُه الطعامَ والشَّهْوَة فشفِّعْنِي فيه، ويقولُ القرآنُ منعتُه النوم بالليلِ
 فشَفِّعْنِي فيهِ، قَالَ فَيشْفَعَانِ

“Puasa dan al-Qur-an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak. Puasa berkata: ‘Ya, Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat,maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat untuknya.’ Al-Qur-an berkata: ‘Ya rabbku, aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat untuknya.’ Beliau melanjutkan: “Keduanya pun lalu meberikan syafaat.” (HR. Ahmad). [Diriwayatkan juga oleh at-Thabrani dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar : “Shahih, menurut syarat Muslim.” Al- Mundziri berkomentar: “Para perawinya dipakai sebagai hujjah dalam kitab ash-Shahih,”

Saudara-saudaraku, keutamaan-keutamaan puasa tidak akan diperoleh melainkan jika orang yang berpuasa mengerjakan adab-adapnya. Oleh sebab itu bersungguh-sungguhlah kalian dalam menyempurnakan puasa dan menjaga batasan-batasannya serta bertaubatlah kepada Allah atas kekurangan kalian dalam hal ini.

Ya Allah, jagalah puasa kami, jadikanlah ia sebagai pemberi syafaat kepada kami, serta ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para Sahabatnya.